AmbulanMU PCM Turi, Dari Spirit Dakwah Kemanusiaan hingga Hantarkan Pasien ke Lampung

  • Sep 30, 2025
  • Arief Hartanto
  • Warta Turi

Turi, KIMKertomandiri

 

Pada Ahad 28 September 2025 dalam kesempatan bertemu dengan crew AmbulanMU PCM Turi berbagi kisah inspiratif tentang dinamika dan semangat pengabdian mereka menuturkan pengalaman, tantangan, serta harapan bagi keberlangsungan layanan sosial ini.

Crew  ambulanMU terdiri  Sigit Juliatmoko, Irwan Susanto, dan Agus Sunarya dan Yuda serta dibawah koordinasi langsung Ketua LAZISMU PCM Turi Aris Suranto.

 “Pada dasarnya kami adalah penggiat Persyarikatan Muhammadiyah. Dakwah itu tidak hanya melalui mimbar, tetapi juga lewat kemanusiaan. Ambulan Muhammadiyah menjadi salah satu sayap dakwah yang hadir membantu masyarakat,” ungkap Sigit Juliatmoko.

Menurutnya, awal mula hadirnya ambulans Muhammadiyah tidak lepas dari kebutuhan memudahkan pasien dan keluarga untuk mengakses layanan kesehatan. Kini, ambulans Muhammadiyah tersebar hingga tingkat kecamatan, termasuk di Turi, Sleman.

Relawan AmbulanMU PCM Turi melayani pasien kontrol rumah sakit, kondisi darurat (emergency), hingga pasien dengan kebutuhan khusus. Mereka siap siaga 24 jam dengan sistem on call melalui nomor telepon relawan maupun posko Muhammadiyah Turi.

Meskipun jumlah anggota aktif hanya empat orang, semangat kebersamaan menjadi kunci. “Kami saling menutup jika ada yang berhalangan. Jadi meski menyita waktu dan tenaga, relawan tetap bisa membagi peran dengan baik,” jelas Irwan Susanto.

Para relawan juga dibekali berbagai keterampilan medis dan non-medis melalui pelatihan dari rumah sakit, kepolisian, hingga pelatihan mekanik kendaraan. “Kami harus siap menangani henti jantung, patah tulang, gangguan pernapasan, hingga penyakit menular,” tambah Sigit.

Sarana pendukung ambulans dilengkapi tabung oksigen, tandu, peralatan sterilisasi, perlengkapan darurat, hingga selimut pasien. Menariknya, unit ambulans yang digunakan berasal dari mobil Toyota Alphard yang sebelumnya diwakafkan. “Ini bukan sekadar kendaraan, tapi amanah yang harus dijalankan sebaik-baiknya,” tegas Sigit.

Pengalaman bertugas pun penuh cerita. Agus, relawan termuda, mengaku pernah terlalu semangat hingga lupa makan dan istirahat. Bahkan, perjalanan ambulans pernah mencapai Lampung dan Jakarta untuk mengantarkan pasien.

Sigit menceritakan sebuah pengalaman menarik dalam perjalanannya waktu itu  tiba di lokasi pengantaran di Lampung sekitar pukul 11.00 siang. Setelah menyelesaikan urusan, mereka memutuskan untuk beristirahat selama kurang lebih tiga jam dan  pukul 14.00, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Yogyakarta.

Sekitar pukul 16.15, rencana singgah untuk makan siang sambil beristirahat pun muncul. Saat sedang mencari tempat yang cocok, sebuah mobil Alphard putih melaju di samping mereka. Tiba-tiba, kaca tengah sisi kiri mobil tersebut terbuka. Seorang penumpang melambaikan tangan sambil menunjuk ke arah sebuah Rumah Makan Padang yang terlihat cukup mewah. Isyarat itu jelas, ia mengajak mereka untuk mengikuti.

Begitu sampai di area parkir rumah makan, penumpang Alphard itu turun dan menyapa dengan ramah. Ia pun memperkenalkan diri Prof. Marzuki mantan Ketua PWM daan Mantan Rektor Universitas Lampung , lalu mengajak untuk makan bersama. Suasana pertemuan berlangsung hangat, penuh obrolan ringan dan keakraban.

Waktu terasa cepat berlalu. Menjelang pukul 18.00, selepas salat Maghrib, mereka pun berpamitan, kemudian rombongan melanjutkan perjalanan pulang menuju Yogyakarta dengan membawa kesan mendalam dari pertemuan yang tak terduga tersebut.

Operasional ambulans sehari-hari mengandalkan infak sukarela dari pengguna jasa. “Kami tidak memungut biaya, tapi jika ada yang ingin berinfak kami kelola untuk menutup kebutuhan BBM dan perawatan,” jelas Sigit.

AmbulanMU PCM Turi juga pernah mendapat kehormatan menjadi bagian dari dukungan Muktamar Muhammadiyah di Solo, menggunakan unit Alphard sebagai armada utama.

Arief Hartanto KIM Turi