Kajian Sabtu Pagi Masjid Baiturrahim Turi, Ustadz Subagyo Paparkan Enam Perusak Iman
- May 10, 2026
- Arief Hartanto
- Warta Donokerto
Turi, KIM Kertomandiri
Kajian Sabtu Pagi yang digelar di Masjid Baiturrahim Turi pada Sabtu (9/5/2026) berlangsung khidmat dan penuh perhatian jamaah. Dalam kajian tersebut, Ustadz H. Subagyo, S.Ag., M.Si. dari Kementerian Agama Kabupaten Sleman menyampaikan tausiyah bertema “Perusak Iman” yang mengulas enam perkara yang dapat merusak dan melemahkan keimanan seorang muslim.
Di hadapan jamaah, Ustadz Subagyo menegaskan bahwa menjaga iman merupakan kewajiban setiap muslim. Menurutnya, kerusakan iman sering kali muncul dari kebiasaan yang dianggap sepele namun dilakukan terus-menerus.
“Perkara pertama yang merusak iman adalah senang mencari kesalahan orang lain tetapi lupa melihat kesalahan diri sendiri. Orang yang diberi kelebihan tidak boleh menghina mereka yang memiliki kekurangan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar umat Islam lebih banyak melakukan kegiatan yang bermanfaat dibanding sibuk mengurusi kekurangan orang lain. Sikap gemar mencela, menurutnya, dapat menumbuhkan kesombongan dan mengikis rasa syukur kepada Allah SWT.
Perkara kedua adalah hati yang keras. Menurut Ustadz Subagyo, hati yang keras biasanya muncul akibat banyaknya dosa yang dilakukan manusia. Akibatnya, seseorang menjadi sulit menerima nasihat maupun peringatan.
“Dosa itu ibarat noktah hitam yang mengotori hati. Kalau terus dilakukan tanpa taubat, hati menjadi keras dan sulit menerima kebenaran,” jelasnya.
Dalam kajian tersebut, ia juga mengingatkan bahaya terlalu mencintai dunia. Dunia, katanya, hanyalah sarana dan perantara menuju kehidupan akhirat. Segala yang dimiliki manusia sejatinya hanyalah titipan dan amanah dari Allah SWT.
“Jangan sampai dunia menjadi tujuan utama hidup. Harta, jabatan, dan kedudukan hanyalah amanah yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali,” katanya.
Ustadz Subagyo kemudian menjelaskan tentang panjang angan-angan yang menjadi salah satu penyebab rusaknya iman. Ia menyebut manusia sering terlena dengan rencana-rencana duniawi tanpa mempersiapkan bekal akhirat.
“Sejatinya hari itu hanya ada tiga, yaitu kemarin, hari ini, dan besok. Yang sudah lewat tidak bisa kembali lagi. Karena itu, setiap muslim harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan keutamaan beberapa hari dalam Islam. Hari Senin dan Kamis disebut sebagai waktu dibukanya pintu ampunan bagi orang-orang mukmin selama tidak ada kesyirikan dalam hatinya. Selain itu, Rasulullah SAW lahir dan wafat pada hari Senin sehingga umat Islam disunnahkan berpuasa pada hari tersebut.
“Rabu adalah waktu yang baik untuk memulai usaha, sedangkan Jumat disebut sebagai ayamul ayam atau penghulu segala hari,” tambahnya.
Perusak iman berikutnya adalah tidak pernah berhenti berbuat zalim. Kedzaliman, menurutnya, bisa dilakukan melalui ucapan maupun tindakan. Kebiasaan berbuat zalim yang terus dilakukan akan sulit dihentikan apabila tidak segera disadari dan diperbaiki.
“Kedzaliman itu bisa berupa menyakiti orang lain lewat perkataan ataupun perbuatan. Kalau sudah menjadi kebiasaan, seseorang akan sulit meninggalkannya,” ungkapnya.
Adapun perkara terakhir yang disampaikan adalah hilangnya rasa malu terhadap larangan syariat Islam. Ia mencontohkan perilaku tidak menutup aurat, mengambil hak orang lain, maupun berkata tidak pantas tanpa rasa bersalah sebagai bentuk lunturnya rasa malu.
“Rasa malu adalah bagian dari iman. Ketika rasa malu hilang, seseorang akan mudah melakukan hal-hal yang dilarang agama,” tandasnya.
DR. H. Agus Nugroho selaku takmir masjid menyatakan Kajian Sabtu Pagi tersebut diakhiri dengan ajakan kepada seluruh jamaah untuk terus memperbaiki diri, memperkuat iman, dan meningkatkan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.