Berawal dari Coba-Coba, Agriesta Group Turi Sukses Kembangkan Susu Kambing Etawa Bubuk hingga Menembus Pasar Nasional

  • Jul 21, 2026
  • Arief Hartanto
  • Warta Girikerto

Turi KIM KErtomandiri

 

Ketekunan dan keberanian untuk terus berinovasi mengantarkan H. Suyatno, pelaku usaha asal Dusun Pelem, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Sleman, membangun industri pengolahan susu kambing etawa bubuk yang kini dikenal dengan merek Agriesta Group. Berawal dari usaha rumahan pada 2014, produk olahannya kini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Di rumah produksinya yang berada di lereng Merapi, Suyatno menceritakan perjalanan usahanya yang berawal dari kondisi sederhana. Saat itu ia belum memiliki pekerjaan tetap dan hanya mencoba memanfaatkan hasil ternak kambing miliknya.

"Awalnya saya tidak punya pekerjaan. Saya hanya mencoba mengolah susu dari peternakan sendiri bersama istri. Saya yang memerah susu, istri yang mengolahnya. Tidak pernah menyangka akhirnya usaha ini berkembang seperti sekarang," ujar Suyatno.

Seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap produk susu kambing bubuk, kapasitas usahanya terus bertambah. Dari yang semula menyatu dengan rumah tinggal, kini Agriesta Group telah memiliki bangunan produksi tersendiri serta mempekerjakan sejumlah karyawan.

Menurut Suyatno, ide membuat susu kambing bubuk muncul dari hal yang sederhana. Ia terinspirasi melihat jahe yang dapat diolah menjadi bubuk, lalu mencoba menerapkan konsep serupa pada susu kambing.

"Saya berpikir kalau jahe bisa dijadikan bubuk, apakah susu kambing juga bisa? Ternyata bisa. Prinsipnya hanya memisahkan kandungan air dari padatan susu melalui proses pemanasan sambil terus diaduk hingga kadar air menguap," jelasnya.

Dalam satu kali proses produksi dibutuhkan waktu sekitar dua jam. Namun dengan menggunakan dua tungku dan dua wajan, proses berikutnya dapat berlangsung lebih efisien. Tingkat kekeringan bubuk juga menjadi perhatian utama agar kualitas dan daya simpan produk tetap terjaga.

Saat ini kebutuhan bahan baku dipenuhi dari jaringan peternak binaan yang setiap hari menyuplai susu segar. Rata-rata sekitar 400 liter susu diolah setiap hari, meski jumlah produksi akan disesuaikan dengan permintaan pasar.

Suyatno menegaskan bahwa inovasi menjadi kunci utama agar produk tetap mampu bersaing. Mulai dari aneka arasa susu bubuk Etawa original, Jahe, Coklat dan Vanila serta dari semula kemasan plastik sederhana, kini Agriesta Group telah menggunakan kemasan modern dengan desain full color yang lebih menarik.

"Kami tidak boleh berhenti berinovasi. Kemasan terus diperbaiki, kualitas juga terus ditingkatkan supaya produk tidak monoton dan tetap diminati konsumen," katanya.

Selain fokus pada mutu produk, Agriesta Group juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai instansi pemerintah, mulai dari Dinas Perindustrian, lembaga penelitian, hingga Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Seluruh perizinan, termasuk sertifikat halal, izin edar, serta hasil uji laboratorium, telah dikantongi sebagai bentuk komitmen terhadap keamanan pangan.

Dalam masa puncak produksi, usaha ini pernah menyerap sekitar 60 tenaga kerja dari lingkungan sekitar. Meski jumlah pekerja saat ini menyesuaikan kondisi pasar, keberadaan Agriesta Group tetap menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat dan peternak mitra di wilayah Turi.

Jaringan pemasaran produk pun terus meluas. Susu kambing etawa bubuk Agriesta Group telah dipasarkan ke Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Medan, dan berbagai daerah lain di Indonesia.

Suyatno berharap semakin banyak masyarakat mengenal manfaat susu kambing etawa bagi kesehatan sekaligus mendukung tumbuhnya ekonomi lokal.

"Kalau semakin banyak orang mengonsumsi susu kambing, bukan hanya kesehatan masyarakat yang meningkat, tetapi ekonomi peternak, pengolah, hingga pelaku usaha di sekitarnya juga ikut berkembang," tuturnya.