Masjid YTCS Kembangarum Turi Belajar dari Masjid Jogokariyan: Membangun Masjid Untuk Kesejahteraan Umat

  • Oct 24, 2025
  • Arief Hartanto
  • Warta Donokerto

Donokerto, KIM Kertomandiri

Takmir Masjid YTCS Kembangarum Donokerto Turi pada Kamis 23 Oktober 2025 menggelar kajian bertajuk “Belajar Memakmurkan dan Mengembangkan Masjid dari Masjid Jogokariyan Yogyakarta” menghadirkan Ustadz Syuban Rizali Noor, Ketua Takmir Masjid Jogokariyan yang jama’ah masjidnya makmur dan banyak kegiatan didalamnya, hal ini sebagai langkah nyata untuk memperkuat fungsi dan manajemen masjid di tengah masyarakat modern.

Kegiatan ini diikuti oleh para takmir, jama’ah pemuda, dan tokoh masyarakat dengan antusias belajar dari keberhasilan Masjid Jogokariyan dalam membangun jamaah yang mandiri, makmur, dan berdaya guna.

Dalam pemaparannya, Ustadz Syuban menegaskan bahwa pengelolaan masjid harus berangkat dari niat yang lurus dan berbasis data jamaah. “Masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi pusat peradaban. Kami melakukan sensus jamaah agar tahu siapa yang shalat dan siapa yang belum. Dari data itu, kami tahu apa yang harus dilakukan untuk memakmurkan masjid,” ujarnya.

Menurutnya, sistem manajemen masjid harus mencakup tiga tahap: pemetaan, pelayanan, dan pemberdayaan. Pendataan jamaah menjadi dasar bagi program yang relevan dan berkelanjutan, seperti Gerakan Subuh Berjamaah, Gerakan Infak Nol Rupiah, serta Jamaah Mandiri. Melalui langkah-langkah tersebut, Jogokariyan berhasil mengubah wajah masyarakatnya dari kampung “abangan” menjadi masyarakat islami yang aktif di masjid.

Salah satu yang menjadi perhatian peserta adalah filosofi “saldo infak harus nol rupiah”. Jazir menjelaskan, “Infak jamaah bukan untuk disimpan di bank, tapi harus segera disalurkan untuk kemaslahatan umat. Bagaimana mungkin kita tenang dengan saldo jutaan, sementara ada tetangga yang tidak bisa ke rumah sakit?” Prinsip ini membuat jamaah lebih semangat berinfak karena yakin bahwa dana mereka langsung memberi manfaat.

Selain itu, konsep Gerakan Jamaah Mandiri turut menginspirasi para peserta. Sistem ini menghitung kebutuhan biaya operasional masjid selama setahun, lalu dibagi rata per pekan dan per jamaah. Dengan demikian, setiap orang mengetahui berapa infak ideal yang membuatnya menjadi “jamaah mandiri” yakni jamaah yang tidak disubsidi oleh orang lain. “Kalau infak Anda Rp1.500 per pekan, Anda sudah mandiri. Kalau lebih, Anda menolong orang lain,” kata Syuban.

Dari sisi komunikasi dakwah, peserta juga diajak memahami pentingnya brand awareness dalam konteks masjid. Materi dari Masjid Jogokariyan menegaskan bahwa memperkenalkan masjid kepada masyarakat bukan sekadar pencitraan, melainkan upaya mengenalkan nilai, prinsip, dan karya nyata. “Kenal, percaya, lalu berpartisipasi, itu kunci dakwah masjid,” dalam modul Brand Awareness Masjid.

 Masjid harus dikenal sebagai tempat yang ramah, tempat belajar, tempat anak muda berkarya. Kalau masjid ramai dan jamaahnya bahagia, itu tanda masjid hidup. Konsep ini sesuai dengan praktik Rasulullah SAW yang menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan kegiatan sosial.

 Arief Hartanto KIM Kertomandiri