Penampilan Bregodo Wongso Manggolo Kendal Dalam Grebeg Syawal Kraton Yogyakarta 2026

  • Mar 24, 2026
  • Arief Hartanto
  • Warta Bangunkerto

Yogyakarta, KIM Kertomandiri 

Partisipasi Bregodo Wongso Manggolo dari Kendal Bangunkerto Turi menjadi sorotan dalam perhelatan Grebeg Syawal yang digelar Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Jumat Legi, 20 Maret 2026. Dalam tradisi tahunan yang berlangsung khidmat ini, kehadiran bregodo dari luar kraton tersebut menunjukkan kuatnya peran masyarakat dalam menjaga dan melestarikan budaya Jawa.

Grebeg Syawal yang dipusatkan di lingkungan kraton ini diawali dengan prosesi kirab gunungan menuju Masjid Agung Kauman Yogyakarta, Kepatihan, dan Mangkubumen. Di antara deretan prajurit bregada yang ikut serta, Bregodo Wongso Manggolo tampil dengan formasi rapi, busana adat lengkap, serta iringan musik tradisional yang khas.

Salah satu pengurus Bregodo Wongso Manggolo, Ahmad Sujadi menuturkan pihaknya merasa senang dan bangga dapat berpartisipasi menyemarakkan acara tersebut. “Keikutsertaan kami dalam Grebeg Syawal adalah bentuk pengabdian kepada budaya dan wujud kecintaan terhadap warisan leluhur. Ini bukan sekadar tampil, tetapi menjaga amanah tradisi.”

Bregodo Wongso Manggolo berasal dari wilayah Kendal, Bangunkerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman. Kehadiran mereka dalam Grebeg Syawal bukanlah hal baru, melainkan bagian dari keterlibatan rutin masyarakat dalam mendukung kegiatan kraton. Penampilan mereka dinilai mampu memperkaya dinamika kirab budaya yang selama ini identik dengan prajurit internal kraton.

 Selain Bregodo Wongso Manggolo, sejumlah bregodo lain dari wilayah Sleman juga turut berpartisipasi. Namun, kehadiran Wongso Manggolo menjadi perhatian karena konsistensi mereka dalam mengikuti agenda budaya serta kekompakan barisan yang ditampilkan sepanjang prosesi.

Grebeg Syawal sendiri merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Mataram Islam. Tujuannya adalah memperingati Hari Raya Idulfitri sekaligus sebagai simbol sedekah raja kepada rakyat melalui gunungan yang diperebutkan masyarakat. Tradisi ini juga mencerminkan hubungan harmonis antara kraton dan masyarakat di luar lingkungan istana.

Keterlibatan Bregodo Wongso Manggolo memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab kraton, tetapi juga masyarakat luas. Kolaborasi ini menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Kami berharap generasi muda ikut terlibat dan bangga dengan budaya sendiri. Lewat kegiatan seperti ini, nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong bisa terus diwariskan,” tambah Agus Dwi S  Dukuh Kendal.

Partisipasi aktif Bregodo Wongso Manggolo dalam Grebeg Syawal 2026 tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa tradisi dapat terus berkembang melalui dukungan komunitas. Momentum ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar kelompok budaya yang memiliki visi sama dalam menjaga warisan leluhur.

Dengan penampilan yang disiplin, penuh semangat, dan sarat makna, Bregodo Wongso Manggolo berhasil menunjukkan eksistensinya sebagai bagian penting dalam ekosistem budaya Yogyakarta, sekaligus mempertegas peran masyarakat dalam mendukung tradisi Grebeg Syawal yang telah mengakar selama berabad-abad.

 

Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi    Budaya