Winarta Kembangkan Budidaya Lele Bioflok Organik di Cangkringan Lereng Merapi, Jadi Rujukan Peternak Pemula

  • Jun 22, 2026
  • Arief Hartanto
  • Warta Turi

KIM Kertomandiri Turi 

Budidaya ikan lele dengan sistem bioflok terus berkembang di Kabupaten Sleman. Salah satu pelaku usaha yang konsisten mengembangkan metode ini adalah Winarto, peternak lokal yang berdomisili di Padukuhan Karanggawang, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi yang juga penggiat KIM Kertomandiri Turi. Usaha yang dirintisnya telah kerap menjadi tempat belajar bagi warga bahkan akademisi yang ingin mengenal budidaya lele modern.

Di lokasi budidayanya, Winarta menggunakan kolam bundar berbahan terpal yang menjadi ciri khas sistem bioflok. Metode tersebut dinilai lebih praktis dan efisien dibandingkan kolam tanah konvensional karena mampu menekan penggunaan air sekaligus meningkatkan produktivitas budidaya.

Kolam bundar berdiameter dua meter dengan tinggi sekitar satu hingga 1,2 meter yang digunakan Winarto mampu menampung sekitar 1.000 hingga 1.500 ekor benih lele dalam satu siklus pemeliharaan. Kapasitas tersebut jauh lebih besar dibandingkan metode budidaya biasa karena didukung sistem pengelolaan air yang lebih baik.

“Salah satu keunggulan kolam bundar adalah sirkulasi air lebih merata. Kotoran dan sisa pakan akan terkumpul di bagian tengah kolam sehingga mudah dibuang melalui saluran pembuangan atau central drain,” katanya.

Hal ini mendorong P4S Kopi Merapi Petung Cangkringan di lereng Gunung Merapi mulai mengembangkan budidaya lele organik yang terintegrasi dengan tanaman kopi dan buah-buahan. Menurut Hanan dari Kopi Merapi “ Program ini memanfaatkan sistem kolam terpal bioflok serta penggunaan probiotik dan imunostimulan berbahan alami untuk menghasilkan lele yang lebih sehat sekaligus ramah lingkungan”.

“Banyak warga yang datang untuk melihat langsung bagaimana sistem bioflok bekerja. Mereka ingin mengetahui cara pemeliharaan, pemberian pakan, hingga pengelolaan kualitas air agar hasil panen lebih optimal,” ujar Winarta saat ditemui di lokasi pemasangan kolam lele di Petung Cangkringan pada Minggu sore 21 Juni 2026 .

Keunggulan lainnya, bentuk kolam yang tidak memiliki sudut mampu mengurangi risiko ikan mengalami stres akibat benturan saat bergerak. Kondisi ini berdampak pada pertumbuhan ikan yang lebih seragam dan tingkat kematian yang lebih rendah.

Konsep lele organik berbeda dengan budidaya konvensional karena tidak menggunakan obat kimia yakni dengan memakai bahan-bahan herbal seperti temulawak, kunyit, jahe, dan daun kelor untuk meningkatkan daya tahan ikan sekaligus menghasilkan lele yang lebih sehat dan rasanya lebih baik  dengnan pakan yang digunakan juga dirancang secara mandiri dengan tambahan ramuan herbal sehingga kebutuhan nutrisi dan vitamin ikan tetap terpenuhi tanpa bergantung pada bahan kimia sintetis pungkas Winarta.

Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi      Pertanian