Bimbingan Teknis SPGDT, Puluhan Layanan Ambulans Non-Faskes Se Sleman
- Nov 18, 2025
- Arief Hartanto
- Warta Sembada
Turim KIM Kertomandiri
UPTD PSC SES (Unit Pelaksana Teknis Daerah, Public Service Centre Sleman Emergency Service Sleman) Dinas Kesehatan sebuah program dari Pemerintah Kabupaten Sleman yang bertujuan memberikan pelayanan pada korban kecelakaan atau kegawatdaruratan medis sehari-hari, yang terjadi di seluruh wilayah Kabupaten Sleman secara cepat dan tepat tanpa memandang status kependudukannya dengan call center (0274) 8609000 / 0811 2668 900.
Berbagai langkah strategis untuk meningkatkan mutu pelayanan kegawatdaruratan di Kabupaten Sleman, salah satunya melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Tatalaksana Kegawatdaruratan bagi Tim Ambulans Non Faskes Tahun 2025.
Dengan peserta puluhan penyedia layanan ambulans dari berbagai organisasi masyarakat, lembaga sosial, hingga komunitas kemanusiaan hadir dalam pertemuan yang digelar pada Sabtu, 15 November 2025, bertempat di Ruang Rapat Sembada, Sekretariat Daerah Sleman.
Kepala UPTD PSC SES Sleman, dr. Dharmawan Lingga Artama, yang menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan kemampuan teknis tim ambulans non-fasilitas kesehatan dalam menghadapi situasi darurat dan meningkatkan kapasitas pelayanan kegawatdaruratan medis bagi tim ambulans non faskes.
Terdapat 25 fasilitas atau layanan ambulans non-faskes yang dipanggil untuk mengirimkan dua orang perwakilan masing-masing. Daftar tersebut mencakup layanan yang cukup dikenal di masyarakat seperti Ambulans LAZISNU Seyegan, AmbulansMU PCM Turi, Ambulans Emergency SAR DIY, Ambulans Jogja 1, Ambulan Kasih Bunda, Paguyuban Dukuh Pakembinangun, Panti Asuhan Syihabudin, Rescue KTAT Nogotirto, hingga Panda Ambulans Jogja.
Agenda kegiatan dimulai pukul 07.30 dengan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan sambutan pembukaan oleh UPTD PSC SES Sleman. Setelah itu, peserta mengikuti sesi Free Test sebagai pemetaan awal kompetensi.
Materi inti pertama disampaikan oleh dr. Eni Nurhidayati, Sp.S, yang mengangkat tema Kegawatdaruratan Neurologi Saraf. Paras peserta tampak antusias mengikuti penjelasan teknis mengenai tata laksana kasus stroke, kejang, hingga penurunan kesadaran dalam kondisi pra-fasilitas.
Sesi kedua diisi oleh dr. Ahkob Krisnanto, Sp.B, dengan topik Kegawatdaruratan Trauma Abdomen. Peserta menerima pembekalan mengenai identifikasi cedera, stabilisasi, serta penanganan transportasi pasien trauma menuju fasilitas kesehatan.
Materi ketiga disampaikan oleh Kudiayana, SKM, M.Sc, yang memaparkan tentang SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu) serta regulasi terkait pelayanan ambulans. Berdasarkan materi presentasi tersebut, SPGDT ditegaskan sebagai “sistem yang menjamin masyarakat akan pelayanan kegawatdaruratan medis, meningkatkan akses dan mutu pelayanan, mempercepat respon, serta menyelamatkan jiwa dan mencegah kecacatan.”
Dalam paparan yang sama, disebutkan pula bahwa pelayanan ambulans merupakan komponen kunci dalam sistem SPGDT, meliputi pre-fasilitas, intra-fasilitas, dan inter-fasilitas. Ambulans wajib dilengkapi dengan sistem komunikasi, informasi, serta SDM terlatih yang memahami prosedur bantuan hidup dasar maupun lanjut.
Materi juga menegaskan perbedaan fungsi antara Ambulans Transport dan Ambulans Gawat Darurat, termasuk kelengkapan medis seperti set jalan napas, set sirkulasi, ventilator, defibrillator, long spine board, dan peralatan emergensi lainnya.
Pada sesi akhir, panitia mengadakan perumusan dan deklarasi Garda Sleman, yaitu jejaring relawan ambulans non-faskes yang diharapkan berperan aktif dalam koordinasi SPGDT di tingkat kabupaten. Kegiatan dilanjutkan dengan post test untuk mengukur peningkatan kapasitas peserta, kemudian ditutup secara resmi oleh tim panitia.
Menurut dr. Dharmawan Lingga Artama dalam penjelasan penutupnya, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, melainkan upaya membangun jejaring komunikasi antar-ambulans agar setiap kasus kegawatdaruratan dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. “Kami berharap seluruh peserta dapat menerapkan pengetahuan ini di lapangan sehingga keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin,” ujarnya.
Menurut Irwan Susanto salah satu Peserta Bimtek dari AmbulanMu PCM Turi, Pelatihan ini penting mengingat meningkatnya kebutuhan layanan ambulans di masyarakat “tingginya angka kegawatdaruratan sehari-hari, potensi bencana, kebutuhan transport medis yang cepat dan aman, serta belum meratanya sumber daya fasilitas kesehatan.”
Dengan adanya pelatihan ini, UPTD PSC SES Sleman berharap seluruh layanan ambulans non-faskes dapat menjalankan standar pelayanan yang selaras dengan ketentuan nasional, mulai dari kesiapan armada, prosedur penggunaan sirine, komunikasi lapangan, pencatatan kondisi pasien, hingga koordinasi dengan rumah sakit rujukan.
Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi