Simak Cara Jaga Kualitas Kopi Lereng Merapi dari Kebun hingga Siap Seduh
- Jul 06, 2026
- Arief Hartanto
- Warta Sembada
Cangkringan, KIM Kertomandiri
Aroma kopi yang khas menyambut setiap pengunjung yang datang ke Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Kopi Merapi di Dusun Petung, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Ahad (5/7/2026). Di tempat inilah biji kopi dari lereng Merapi diproses secara teliti hingga menjadi minuman berkualitas yang banyak diminati penikmat kopi.
Paryadi, pengelola P4S Kopi Merapi, menjelaskan bahwa proses pengolahan kopi dimulai dari buah kopi merah atau cherry yang baru dipanen dari kebun. Buah tersebut kemudian dikupas menggunakan mesin pulper dengan bantuan air agar proses pemisahan kulit berlangsung lebih mudah.
“Kalau di tingkat petani, harga kopi cherry merah berkisar Rp15 ribu sampai Rp16 ribu per kilogram. Setelah dipanen langsung kami kupas dan diproses lebih lanjut,” ujar Paryadi.
Kulit kopi hasil pengupasan tidak dibuang begitu saja. Menurutnya, limbah tersebut dimanfaatkan kembali sebagai bahan pupuk organik bagi tanaman.
Setelah proses pengupasan, biji kopi dijemur hingga kadar airnya berkurang. Pada musim panas, proses penjemuran membutuhkan waktu sekitar satu pekan.
“Biasanya seminggu sudah kering kalau cuacanya mendukung. Tandanya, biji kopi sudah keras dan tidak kempes ketika dipencet,” katanya.
Tahapan berikutnya adalah proses roasting atau sangrai. P4S Kopi Merapi menggunakan mesin sangrai berkapasitas tiga kilogram setiap kali proses. Untuk kopi robusta, suhu pemanggangan berkisar antara 195 hingga 200 derajat Celsius.
“Proses roasting paling cepat sekitar 15 menit, rata-rata 20 menit sekali sangrai,” jelasnya.
Setelah disangrai, biji kopi tidak langsung digiling. Paryadi menuturkan bahwa kopi perlu diistirahatkan atau resting selama sekitar dua hari agar gas yang masih tersimpan di dalam biji kopi berkurang.
“Kalau terlalu cepat digiling, rasa kopinya belum maksimal dan bagi sebagian orang bisa membuat perut tidak nyaman. Karena itu kami diamkan sekitar dua hari,” ujarnya.
Setelah masa resting selesai, kopi digiling menjadi bubuk dan dikemas. Sebagian besar produksi P4S Kopi Merapi dipasarkan ke Warung Kopi Merapi yang masih berada dalam satu kepemilikan.
Untuk produk kemasan 500 gram, kopi arabika dijual seharga Rp180 ribu, sedangkan robusta dibanderol Rp100 ribu.
“Kalau ada pemesan dari luar daerah, kami juga melayani. Biasanya mereka memesan dalam bentuk roasted bean agar bisa digiling sendiri di rumah,” kata Paryadi.
Ia menambahkan, dalam tiga tahun terakhir P4S Kopi Merapi lebih banyak membeli hasil panen dari petani di Cangkringan. Pasokan juga datang dari beberapa daerah lain seperti Boyolali dan Tempel.
Menariknya, perkembangan budidaya kopi di lereng Merapi justru semakin pesat setelah erupsi Merapi 2010. Menurut Paryadi, masyarakat mulai serius menanam kopi beberapa tahun setelah bencana tersebut.
“Dulu sudah ada yang menanam kopi, tetapi belum banyak. Setelah erupsi, masyarakat mulai melihat kopi sebagai komoditas yang menjanjikan dan jumlah petaninya terus bertambah,” tuturnya.
Melalui P4S Kopi Merapi, proses pengolahan kopi tidak hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan petani dan pengembangan ekonomi masyarakat di lereng Merapi.
Arief Hartanto KIM Kertomandiri pertanian Kopi Merapi