Calon Purnatugas Karyawan Tambang Berau Kaltim Ngangsu Kaweruh Budidaya Lele Terintegrasi di P4S Dewaruchi Turi
- Jul 10, 2026
- Arief Hartanto
- Warta Turi
KIM Kertomandiri Turi
Semangat mempersiapkan masa pensiun secara produktif ditunjukkan lima calon purnatugas karyawan perusahaan tambang batu bara di Berau, Kalimantan Timur. Didampingi Koordinator A. Hanafi dan Hari Nurcahyo, mereka mengikuti pembelajaran tentang pertanian organik dan budidaya lele terintegrasi di P4S Dewaruchi, Padukuhan Karanggawang, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Sleman, Kamis (9/7/2026).
Kegiatan tersebut dipandu langsung oleh Winarta, penggiat pertanian organik sekaligus pengelola Sekolah Alam penggiat Pusat Pelatihan pertanian Pedesaan swadaya Dewaruci P4S dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kertomandiri Turi.
Materi yang diberikan mengangkat tema “Peran Nutrisi untuk Budidaya Lele Terintegrasi dan Solusi Pakan Alternatif”, sebagai bekal bagi para peserta yang ingin merintis usaha setelah memasuki masa pensiun.
Dalam pemaparannya, Winarta menjelaskan bahwa tantangan terbesar budidaya lele saat ini adalah tingginya biaya pakan pabrikan yang dapat menyerap lebih dari separuh biaya produksi. Karena itu, peternak perlu mulai memanfaatkan sumber pakan lokal yang lebih murah namun tetap bernilai gizi tinggi.
“Budidaya lele akan lebih menguntungkan apabila peternak tidak sepenuhnya bergantung pada pakan pabrik. Maggot BSF, azolla, dan berbagai hijauan seperti daun talas maupun daun pepaya dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan untuk menekan biaya produksi,” ujar Winarta.
Ia menambahkan, sistem budidaya terintegrasi tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga memanfaatkan limbah organik menjadi sumber nutrisi baru. Menurutnya, konsep tersebut mampu menciptakan siklus usaha yang lebih efisien, ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan keuntungan peternak.
Koordinator rombongan, A. Hanafi, mengatakan kunjungan belajar ini merupakan bagian dari persiapan para calon purnatugas agar memiliki keterampilan baru sebelum kembali ke daerah masing-masing.
“Kami ingin teman-teman memiliki bekal usaha yang realistis dan mudah diterapkan. Budidaya lele terpadu dengan pakan alternatif menjadi salah satu pilihan yang prospektif karena kebutuhan pasar masih tinggi,” katanya.
Sementara itu, Hari Nurcahyo menilai pengalaman belajar langsung di lapangan memberikan gambaran nyata mengenai pengelolaan usaha perikanan skala rumah tangga hingga komersial.
Para peserta juga diajak melihat praktik budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), penanaman azolla sebagai sumber protein nabati, serta pemanfaatan limbah organik menjadi media produksi pakan alami. Pendekatan tersebut dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap pelet komersial yang harganya terus meningkat.
Sejumlah penelitian menunjukkan maggot BSF memiliki kandungan protein tinggi sehingga berpotensi menjadi pakan alternatif bagi ikan lele. Kombinasi maggot dan azolla juga dilaporkan mampu mendukung pertumbuhan lele sekaligus menekan biaya produksi. Selain itu, berbagai program pengabdian masyarakat di Indonesia telah membuktikan bahwa pemanfaatan maggot dapat mengurangi beban biaya pakan yang selama ini menjadi komponen terbesar dalam usaha budidaya lele.
Melalui kegiatan tersebut, para calon purnatugas berharap dapat mengembangkan usaha budidaya lele terintegrasi di daerah asal masing-masing sebagai sumber penghasilan baru setelah menyelesaikan masa pengabdian di sektor pertambangan.
Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi Pertanian