Menata Hati dan Menguatkan Tauhid Kajian Sabtu Pagi Masjid Baiturrahim, Turi Bersama Ustadz Ismail Hermana
- Nov 22, 2025
- Arief Hartanto
- Warta Donokerto
Turi, KIM Kertomandiri
Ketua Yayasan Bumi Mandiri, Ustadz Ismail Hermana dalam acara Pengajian Sabtu Pagi yang digelar di Masjid Baiturrahim, Turi, pada Sabtu (22/11/2025) mengajak umat Islam untuk senantiasa menata hati dan menguatkan tauhid dalam setiap aspek kehidupan. Kajian ini disampaikan acara bertajuk "Menata Hati, Menguatkan Tauhid Bersama " yang dihadiri oleh ratusan jamaah yang antusias menyimak tausiyah.
Dalam kajiannya, Ustadz Ismail Hermana, yang juga dikenal sebagai Edukator Happy Umrah, menyoroti pentingnya introspeksi diri dan pengakuan akan dosa-dosa yang telah dilakukan manusia, dimana makna mendalam dari Sayidul Istighfar, yang dimaknai sebagai pengakuan bahwa Allah adalah Tuhanku, dan aku adalah makhluk-Mu.
"Mungkin baju kita bersih, tapi bisa jadi hati kita belum bersih. Bahkan ketika kita mati, kita dimandikan sampai bersih, dibungkus kain kafan yang bersih, tapi belum tentu rohani kita sudah bersih."
Oleh karena itu, beliau menggarisbawahi dua sisi yang harus dilakukan seorang Muslim secara berimbang: banyak memohon ampun kepada Allah SWT, dan di sisi lain, banyak berbuat kebaikan, baik kepada Sang Pencipta maupun kepada sesama makhluk Allah.
Ustadz Ismail Hermana memberikan analogi menarik tentang kehidupan dan dampaknya, seperti sebuah pantulan atau gema. Beliau menceritakan kisah seorang ayah yang menjelaskan konsep gema kepada anaknya, di mana suara yang dikeluarkan akan diikuti oleh pantulan suara yang sama di lembah.
"Demikianlah kehidupan, apa yang kita lakukan akan memantul, bergema, dan diikuti dengan perbuatan lainnya," jelasnya.
Setiap perbuatan, baik maupun buruk, akan menghasilkan resonansi dalam hidup, setiap kebaikan akan memancarkan kebaikan berikutnya dan sebaliknya, setiap keburukan akan bergema memancarkan dan memunculkan keburukan lainnya.
Melakukan kebaikan, memang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Namun, layaknya sebuah pendakian gunung, kesulitan dalam perjalanan akan terbayar lunas dengan pemandangan luar biasa yang didapatkan saat mencapai puncak. "Jika mampu melakukannya (kebaikan), akan berbuah kenikmatan," tegas Ustadz Ismail.
Lebih lanjut, beliau menggambarkan hidup sebagai sebuah perjalanan spiritual yang sangat ditentukan oleh penutupnya, yakni Husnul Khatimah (akhir yang baik).
"Ibarat buku, yang pada umumnya dinilai dari sampulnya. Begitulah hidup, yang juga ditentukan terutama oleh penutupnya (kematian) dengan Husnul Khatimah," tuturnya.
Untuk mencapai akhir yang baik, ketaatan perlu dilakukan sedini mungkin dan terus menerus. Senada dengan hal ini, takmir Masjid Baiturrahim, H. Agus Nugroho Setiawan, M.P., yang juga hadir, menyampaikan pesan penting yang harus dijadikan pegangan oleh setiap jamaah.
"Shalatlah di masjid sampai mati, jangan menunggu mati untuk dishalatkan di masjid," kata H. Agus Nugroho Setiawan kepada redaksi pada Sabtu pagi.
Ustadz Ismail juga mengingatkan bahwa godaan hidup sudah terjadi sejak zaman Nabi Adam AS, dan hal itu terus berlanjut hingga kini. Kita semua, katanya, berpotensi banyak salah dan dosa kepada pasangan, anak, orang tua, saudara, teman, dan lainnya.
"Oleh karena itu, kita harus banyak memohon ampun kepada Allah antara lain dengan istighfar," tutup Ustadz Ismail Hermana, menekankan kembali inti dari kajian yang disampaikan. Pengajian ini menjadi pengingat bagi seluruh jamaah untuk senantiasa membersihkan hati dan menguatkan keimanan sebagai bekal utama di dunia dan akhirat.
Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi