Mengukur Ulang Ketakwaan Pasca Ramadhan, Jamaah Masjid Baiturrahim Turi Ikuti Kajian Bakda Subuh
- Apr 11, 2026
- Arief Hartanto
- Warta Donokerto
Masjid Baiturrahim Prapatan, Turi, Sleman pada Sabtu (11/4/2026) usai pelaksanaan shalat Subuh berjamaah dilanjutkan mengikuti kajian bakda Subuh yang menghadirkan Dr. H. Ali Sunarso, M.Pd., dengan tema “Menguji Ulang Tingkat Ketakwaan Pasca Ramadhan 1447 H.”
Dalam pemaparannya, Dr. Ali Sunarso menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum transformasi spiritual yang harus berdampak nyata setelahnya. Ia mengutip firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 183 tentang tujuan puasa, yakni agar manusia mencapai derajat takwa.
“Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita mengukur apakah ibadah Ramadhan kita berhasil? Ukurannya bukan pada seberapa khusyuk saat Ramadhan saja, tetapi pada perubahan perilaku setelahnya,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa efek dari ibadah puasa yang diterima Allah SWT di antaranya adalah diampuninya dosa-dosa masa lalu serta kembalinya manusia kepada fitrah yang suci. Namun, indikator keberhasilan tersebut harus dibuktikan melalui konsistensi amal dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, ia memaparkan sejumlah tanda seseorang mengalami peningkatan iman dan takwa pasca Ramadhan. Di antaranya adalah adanya perubahan perilaku menjadi lebih baik, konsisten meninggalkan maksiat, serta tumbuhnya ketenangan batin dan semangat dalam beramal saleh. Selain itu, kebiasaan buruk mulai ditinggalkan dan digantikan dengan ketaatan yang lebih kuat.
“Orang yang berhasil dalam Ramadhan akan lebih rajin beribadah, lebih peduli sosial, serta lebih berhati-hati dalam menjaga lisan dan tindakan. Bahkan, ia akan merasa berat untuk kembali melakukan maksiat,” jelasnya.
Dalam konteks kehidupan modern, Dr. Ali juga menyoroti tantangan umat Islam di era digital dan Revolusi Industri 4.0. Ia menyebut fenomena post-truth, di mana kebenaran seringkali dikaburkan oleh opini dan pencitraan, sebagai ancaman serius terhadap integritas moral umat.
“Kita hidup di zaman di mana kebenaran bisa dimanipulasi. Oleh karena itu, peran ulama, ustaz, dan guru tetap tidak tergantikan, meskipun teknologi semakin canggih seperti AI, AR, dan VR,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa iman bersifat dinamis, bisa bertambah dan berkurang. Hal ini sejalan dengan pendapat mayoritas ulama yang didasarkan pada Al-Qur’an, di antaranya QS Al-Anfal ayat 2 dan QS Al-Fath ayat 4. Oleh sebab itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas keimanan.
Kajian ini juga menekankan pentingnya menjaga istiqomah dalam ibadah, seperti salat berjamaah di masjid, membaca Al-Qur’an, berdzikir, serta melanjutkan puasa sunnah seperti enam hari di bulan Syawal. Selain itu, peningkatan kepedulian sosial seperti bersedekah dan membantu sesama juga menjadi indikator penting keberhasilan Ramadhan.
Di akhir kajian, Dr. Ali Sunarso mengajak jamaah untuk terus melakukan evaluasi diri. “Ketakwaan bukan sesuatu yang statis. Ia harus dijaga, dirawat, dan ditingkatkan. Jika setelah Ramadhan kita menjadi lebih baik, itulah tanda keberhasilan kita,” pungkasnya.
Dr. Ir. Agus Nugroho Setiawan, M.P selaku Takmir masjid menyampaikan bahwa Kajian bakda Subuh ini diharapkan menjadi pengingat bagi umat Islam untuk tidak berhenti beribadah setelah Ramadhan, melainkan menjadikannya sebagai titik awal menuju kehidupan yang lebih bertakwa dan bermakna.
Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi