Pentas Wayang Kulit Lakon Wahyu Makutharama Ki Sumiratno Warnai Akhir Tahun 2025 di Turi
- Jan 02, 2026
- Arief Hartanto
- Warta Turi
Turi, KIM Kertomandiri
Pemerintah Kapanewon Turi menutup rangkaian kegiatan akhir tahun 2025 dengan menggelar pentas seni budaya wayang kulit pada Rabu malam, 31 Desember 2025. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kapanewon Turi ini menjadi penanda refleksi akhir tahun sekaligus upaya pelestarian budaya Jawa yang sarat nilai filosofi kepemimpinan.
Acara penutupan akhir tahun tersebut dihadiri oleh Panewu Turi Joko Susilo, S.P., M.Si., jajaran Forkompimkap, tokoh masyarakat, pegiat seni budaya, serta tamu undangan lainnya. Pentas wayang kulit menampilkan lakon “Wahyu Makutharama” dengan dalang Ki Sumiratno, diiringi karawitan dari kelompok Puspito Laras.
Panewu Turi Joko Susilo menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga sarana edukasi budaya dan refleksi nilai-nilai luhur. Melalui pentas wayang kulit, kita kembali memaknai kepemimpinan, pengabdian, serta jati diri sebagai manusia dalam bermasyarakat.
Prosesi simbolis penyerahan tokoh wayang Arjuna diserahkan langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Drs. Susmiarto, MM, kepada dalang Ki Sumiratno. Penyerahan tersebut didampingi oleh Panewu Turi, Panewu Anom Turi, serta disaksikan para undangan yang hadir sebagai simbol dimulainya pagelaran wayang kulit.
Ki Sumiratno selaku dalang mengangkat lakon Wahyu Makutharama yang sarat makna filosofis. Lakon ini mengisahkan perjalanan spiritual Arjuna dalam bertapa untuk memperoleh wahyu kepemimpinan. Dalam perjalanannya, Arjuna berguru kepada Resi Kesawasidi dan diajarkan ajaran Hastha Brata, yakni delapan sifat utama yang harus dimiliki seorang pemimpin, meliputi sifat matahari, bulan, bintang, bumi, samudera, api, angin, dan mendung.
“Wahyu Makutharama mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari proses pengendalian diri, pengorbanan, dan pemahaman akan tugas moral kepada rakyat,” tutur Ki Sumiratno di sela pementasan.
Menariknya, dalam lakon tersebut Arjuna juga digambarkan mampu mengalahkan musuhnya dengan ilmu Asmaratantra, yang kemudian terungkap bahwa musuh tersebut adalah Srikandi dan Subadra. Hal ini melambangkan proses menemukan jati diri dan kepemimpinan ideal melalui ujian batin dan spiritual.
Sri Ismono, anggota KIM Kerto Mandiri yang juga aktif dalam karawitan Puspito Laras, menambahkan bahwa kelompoknya secara rutin menggelar gladhen karawitan di Kapanewon Turi. “Kegiatan latihan rutin ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk terus menjaga dan menghidupkan seni tradisi di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Pentas wayang kulit penutupan akhir tahun ini diharapkan dapat memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya sekaligus menjadi pengingat nilai-nilai kepemimpinan yang relevan dalam kehidupan bermasyarakat.
Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi Seni Budaya Wayang Kulit